pustaka pranala

Menghidupkan Hotel Non-Bintang: Belajar dari Best Practice di Lapangan

Industri perhotelan telah berubah secara drastis dalam dua dekade terakhir. Di kota wisata seperti Yogyakarta, yang dahulu damai dan memiliki ritme pariwisata yang terukur, kini geliatnya tak lagi sama. Hotel-hotel baru bermunculan, banyak di antaranya adalah jaringan besar dengan modal kuat, fasilitas mentereng, dan strategi pemasaran agresif. Bahkan, jaringan hotel budget internasional mampu menawarkan tarif lebih rendah daripada tarif standar hotel lokal. Dalam lanskap inilah hotel-hotel non-bintang, yang dulunya berjaya di era 90-an, harus berjuang keras untuk sekadar bertahan.

Agustina Rahmawati, pelaku usaha hotel selama lebih dari empat dekade, dalam bukunya Best Practice Manajemen Hotel Non Bintang, menggambarkan situasi ini dengan gamblang. Ia menulis bukan dari sudut pandang akademisi yang mengamati dari jauh, melainkan dari garis depan pertempuran bisnis perhotelan. Buku ini menjadi cermin yang menunjukkan bahwa umur panjang sebuah usaha tidak datang dari keberuntungan, tetapi dari ketekunan, perbaikan terus-menerus, dan keputusan kecil yang diambil dengan kesadaran penuh.

Tantangan yang dihadapi hotel non-bintang sangat kompleks. Mulai dari keterbatasan akses ke pasar global, minimnya pemanfaatan teknologi, lemahnya branding, hingga persaingan sengit dengan hotel budget modern dan akomodasi alternatif seperti homestay atau Airbnb. Mengandalkan harga murah saja tidak cukup, karena persepsi kualitas yang rendah dapat menggerus minat tamu, sementara margin keuntungan semakin tipis.

Dari pengalaman lapangan yang dituangkan Agustina, ada pelajaran penting: hotel non-bintang perlu menemukan jati diri mereka di tengah arus besar globalisasi dan digitalisasi. Strategi yang ia sebut sebagai “lingkaran kemenangan” menekankan pentingnya membangun reputasi sejak dari layanan paling dasar—kebersihan, kenyamanan, keramahan—hingga manajemen operasional yang rapi dan konsisten. Dengan pondasi itu, barulah langkah-langkah adaptif seperti pemasaran digital, kemitraan lokal, atau inovasi layanan dapat menghasilkan dampak yang berkelanjutan.

Kisahnya juga menekankan bahwa kekuatan hotel kecil ada pada hal-hal yang tidak bisa dengan mudah ditiru oleh jaringan besar: sentuhan personal, kedekatan dengan budaya lokal, dan fleksibilitas dalam merespons tamu. Kolaborasi dengan pelaku UMKM, penyedia tur lokal, atau komunitas kreatif dapat menciptakan paket pengalaman yang unik. Agustina bahkan mengaitkan strategi bisnis dengan nilai-nilai spiritual, yang ia sebut “Marketing Jalur Langit” — perpaduan antara keyakinan, teladan, ikhtiar, dan tawakal.

Di era pasca-pandemi, di mana perilaku wisatawan berubah dan persaingan semakin ketat, pesan buku ini terasa relevan: hotel non-bintang tidak harus meniru model bisnis hotel besar untuk sukses. Sebaliknya, mereka bisa bertahan bahkan berkembang dengan memaksimalkan kekuatan unik mereka sendiri. Ini adalah tentang bagaimana sebuah perahu kayu bisa tetap berlayar di tengah samudra yang penuh kapal raksasa—bukan dengan menjadi kapal besar, tetapi dengan menjadi perahu yang lincah, adaptif, dan tahu persis kemana harus berlayar.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *