EVOLUSI JARI

Rp98,000

ISBN, Tahun Terbit 2025, 355 Halaman, Ukuran 14 x 21 cm

Deskripsi

Evolusi Jari bukan tentang kemajuan mesin. Ia tentang
bagaimana pikiran tetap memimpin—dan mesin, secerdas
apa pun, tetap tahu diri: mengikuti.

Buku ini lahir dari kesadaran sederhana tapi mendesak:
bahwa teknologi hanya akan secerdas manusia yang
menuntunnya, dan tulisan hanya akan sebermakna pikiran
yang melahirkannya.

Evolusi Jari bukan sekadar buku. Ia adalah pengingat, bahwa
algoritma hanyalah instruksi dan nilai sejati tulisan tetap
lahir dari keberanian dan kedalaman berpikir. 

Evolusi Jari bukan sekadar metafora perubahan alat tulis. Ia
adalah kolaborasi lintas generasi, lintas latar belakang
(Batak dan Jawa, Kristen dan Islam), lintas tempat
kelahiran (Jambi/Sumatra dan Banjarnegara/Jawa), lintas
umur (1953 dan 1981), serta lintas keadaban teknologi
(mesin tik dan prompt).

Saur Hutabarat datang dengan kekuatan berpikir
wartawan ditempa zaman—zaman ketika setiap ide
jurnalistik harus dipertanggungjawabkan dengan
keberanian intelektual-profesional.

Ikhwan Syaefulloh, berlatar studi seni dan wiraswasta,
merangkainya dengan kekuatan prompt dan context
—menerjemahkan pikiran ke dalam bahasa mesin tanpa
kehilangan hati.

Keduanya bertemu dan berkolaborasi bukan untuk
menggantikan, tetapi untuk menegaskan: bahwa di tengah
gelombang algoritma, pikiran manusialah yang harus tetap
menjadi nahkoda, menjadi sang pemimpin.

Menulis adalah kerja jari, berpikir adalah kerja manusia.
Kerja yang tak boleh pensiun, tak boleh menyerah, meski
zaman berganti dan mesin terus diciptakan oleh yang
cerdas—seakan lebih cerdas daripada manusia yang punya
getaran hati dan kedalaman berpikir.

Setiap zaman punya jarinya sendiri. Jangan takut
menggunakan mesin cerdas—karena dia jari, bukan sang
manusia. Dia menjalankan perintah.

Pemutus akhir perkara “fit to print” tetaplah manusia.
Zaman berubah. Sang manusia memutuskan “fit to cloud”.
Sang jari melaksanakannya. Menyentuh tuts. Buah pikiran
terbang—tersimpan di awan.

Hanya manusia bisa berimajinasi. Berpikir. Menimbang.
Memilih. Menentukan arah zaman.

1 ulasan untuk EVOLUSI JARI

  1. PustakaPranala

    Evolusi Jari menghimpun esai-esai pilihan Saur Hutabarat, jurnalis senior penerima Anugerah Bintang Jasa Nararya dari Negara. Sepanjang kariernya, Saur dikenal sebagai wartawan yang berani membongkar masalah sampai ke akarnya—tegas, jernih, dan selalu berpihak pada nurani. Ia adalah pemikir publik dengan pengalaman panjang, termasuk sebagai Pemred Metro TV, yang mengukuhkan reputasinya sebagai penjaga suara moral bangsa.

    Keistimewaan buku ini lahir dari proses kreatifnya. Ikhwan Syaefulloh, seorang kreator yang membidangi kreativitas serta prompt & context engineer dengan pemikiran di luar pakem, mengolah buku ini dari awal hingga akhir menggunakan kecerdasan buatan: penataan ulang esai, penguatan alur, pemolesan naskah, hingga perancangan cover yang estetik.

    Dengan pendekatan itu, Evolusi Jari menjadi salah satu buku pertama di Indonesia yang dijual secara umum dan diproduksi melalui proses kreatif berbasis AI. Namun yang paling menarik: meski AI bekerja penuh, hasilnya tetap manusiawi. Ikhwan menunjukkan bahwa teknologi hanyalah alat—pikiran manusialah yang memimpin, mengarahkan, dan memberi jiwa pada karya ini.

    Di dalamnya, pembaca akan menemukan banyak pesan bernilai kelas filsuf dunia—tentang etika, kebijaksanaan, kepemimpinan, martabat, dan arah bangsa—yang dirangkai dalam konteks Indonesia secara tajam.

    Buku ini layak dimiliki karena bukan sekadar kumpulan kata, tetapi kumpulan pikiran khas Saurian. Ia bukan hanya arsip gagasan, tetapi bukti bahwa kolaborasi manusia dan AI dapat melahirkan karya yang visioner. Membaca buku ini berarti memahami Indonesia sekaligus mengintip masa depan dunia penulisan.

Tambahkan ulasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *